KINERJA FASKEL : ANTARA “PEMBERDAYAAN” ATAUKAH SEKEDAR “CARI DUIT”?

Awal Agustus 2009 ini beban kerja faskel bertambah berat, dari 6 desa dampingan menjadi 10 desa dampingan. Ini menjadikan beban kerja faskel bertambah berat jika hanya dilihat dari kuantitas wilayah dampingan, walaupun jika dilihat dari segi gaji yang diterima faskel (menurut saya) sangat besar. Kalau tidak salah untuk faskel yunior menerima tidak kurang Rp. 2,4 juta (inklud) dan untuk senior faskel  tidak kurang dari Rp. 2,9 juta, belum lagi uang operasional tiap tim, kalau tidak salah Rp. 1 juta (menurut sumber di kolom Forum Bebas www.p2kp.org).

Jika dilihat dari satu sisi saja (beban kerja), banyak faskel yang merasa tenaganya di ekploitasi. (lihat kolom Forum Bebas www.p2kp.org item Faskel di Ekploitasi) bahkan ada yang merasa waktu kerjanya 24 jam x 7 hari dalam seminggu. Apakah benar demikian nyatanya?
Kalau seluruh desa dampingan adalah lokasi baru, artinya masih dalam tahapan sosialisasi awal, rembug kesiapan warga, pemetaan swadaya, dan persiapan rembug warga desa untuk memilih wakil bkm/lkm baik tingkat basis ataupun desa, ini benar karena front liner pelaku pemberdayaan masyarakat (baca relawan, bkm, masyarakat dan pemerintahan desa) masih nol dalam menjalankan siklus PNPM-MP, sehingga memerlukan tenaga ekstra untuk mendampingi mereka.
Dan menjadi tidak benar ketika wilayah dampingannya yang sebagian atau seluruhnya telah menjalankan siklus, artinya bkm telah terbentuk dan telah pada tahapan pembangunan infrastruktur.

Pola pandang masing – masing faskel tentunya berbeda. Kita tidak bisa memandang secara general (jawa: gebyah uyah) bahwa dengan bertambahnya wilayah dampingan beban kerja mereka bertambah berat dan merasa diekploitasi tenaga dan fikirannya.
Tetapi kalau dilihat dari kejernihan hati nurani untuk tugas mulia “Pemberdayaan Masyarakat” ini menjadi ringan karena tugas- tugas mereka toh sebagian besar dibantu oleh relawan (yang belum terbentuk bkm/lkm), bkm, sekretariat, UP-UP; mereka mengerjakan tugas – tugas tersebut tidak mendapatkan sesenpun rupiah. Memang sekretariat mendapatkan honor, itupun kecil sekali (antara Rp. 50.000,- sampai dengan Rp. 75.000,-) bahkan banyak sekretariat yang belum mendapatkan honor karena minimnya Biaya Operasional, yang telah terpakai untuk biaya rapat – rapat dan lain – lain. Dan mereka ikhlas menjalankannya demi kemajuan desanya.

Kalau diasumsikan dalam pembelajaran : faskel sebagai guru dan layak mendapatkan gaji yang sangat gede untuk ukuran kampungku, dan front liner (bkm dan relawan) sebagai siswa yang menjalankan tugas – tugas pemberdayaan bagi masyarakat desanya, seharusnya ada satu kesamaan pandangan bahwa tugas mereka adalah satu, yaitu memberdayaakan masyarakat. Sehingga faskel dalam bekerja tidak semata – mata demi “duit” tetapi transfer ilmu dan pengetahuan antara faskel kepada bkm dan relawan dalam menjalankan tugas pemberdayaan.

Pola pandang yang hanya melihat dari seberapa besar “duit” yang diterima dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat, akan memandulkan program ini. Sebagai contoh kecil, bahwa bkm yang menjalankan kegiatan ini, bukanlah pengangguran; mereka adalah pekerja yang harus menghidupi keluarganya  (anak - anak dan istrinya) dan mereka meluangkan banyak waktunya untuk kegiatan ini; di omelin istri/suami karena pendapatan mereka berkurang (waktu kerjanya tersita untuk bkm) adalah hal yang lumrah, bahkan ada bkm yang dipecat bekerja gara – gara sering ijin kerja ketika shift malam. Ini semua mereka terima dengan ikhlas demi jalannya pemberdayaan di desanya.
Kalau faskel dan bkm hanya memandang dari berapa besar “duit” yang diterima maka :
Faskel  : Duh tenaga gue diekploitasi nih, dampingannya tambah banyak!!!
BKM  : Ngapain gue ngurusin PNPM, faskel yang digaji gede aja ngeluh, apalagi gue yang gak dapet apa- apa!!
MAU???? (kaya iklan aje)

Harus ada kesamaan pola pikir masing – masing pelaku pemberdayaan (stake holder) dalam penjalankan program ini. Diantaranya :
a.  Komitmen pada profesionalisme
b.  Komitmen pada keterbukaan
c.  Komitmen pada kejujuran
d.  Komitmen pada kebersamaan dan kerjasama
e.  Komitmen pada kemiteraan, dan
f.  Komitmen pada kepentingan pembelajaran dan mencari keuntungan bersama dalam bentuk pola horizonal.

Tenaga pemberdaya (baca : faskel dan bkm) harus melebur dalam kesetaraan dan kemitraan bersama masyarakat. Kegagalan selama ini banyak diasumsikan karena prinsip-prinsip pemberdayaan (kode etik pemberdayaan) yang seharusnya dilakukan bersama  (secara partisipatif) telah dilanggar, karena ada kepentingan-kepentingan tertentu dari segelintir orang di luar unsur masyarakat sasaran. Dampaknya menjadi lebih besar terutama untuk kepentingan pemberdayaan dan berkesinambungan. Apalagi jika hanya dilihat dari segi “duit” yang diterima saja.
Tantangan proyek yang berorientasi kepada pemberdayaan, bukan hanya dituntut untuk mempertahankan profesionalisme bagi  para pelakunya, tetapi harus menjadi komitmen bersama dari seluruh unsur  stakeholders yang terlibat dalam proyek bersangkutan.

Dalam menjalankan tugasnya faskel sebagai guru dan bkm/relawan, dan masyarakat sebagai murid (jika dilihat dari sudut pandang pembelajaran) harus mempunyai kemitmen bersama bahwa ini bukan semata – mata karena nominal semata tetapi ada yang lebih besar yakni bekerja sebagai ibadah. Profesionalisme faskel dalam transfer ilmu dan pengetahuan kepada front liner dikatakan berhasil ketika peran faskel tidak dibutuhkan lagi oleh front liner karena mereka sudah bisa menjalankan pemberdayaan di desanya secara mandiri.
Yang menjadi pertanyaan adalah : Apakah mereka rela kehilangan pekerjaannya? Tentu tidak, kan sudah minum (merk obat cacing)!
Jawabannya adalah pada hati nurani faskel itu sendiri, akankah mereka all out transfer ilmunya kepada front liner ataukah sekedar mempertahankan pekerjaan.

Pelaku pemberdayaan masyarakat sejatinya mempunyai 4 kegiatan penting (menurut Prof. Bob Tilden) yakni : Problem solving  (pemecahan masalah);  Sense of Community (perduli terhadapa masyarakat); Sense of mission (komitmen terhadap misi proyek); dan Honesty with self and with others (jujur kepada diri sendiri dan orang lain).
Faskel dan front liner harus sepakat bahwa 4 hal tersebut diatas harus dipahami dan diamalkan sebagai komitmen bersama dalam menjalankan program pemberdayaan.


 
Make a Free Website with Yola.